Product Knowledge

 ISPAHI

POM TR. 163 394 201

 

Immune Support for Potential Activity Highly

Dukungan/bantuan kekebalan untuk Potensi Kegiatan yang sangat tinggi

Sistem Imun/Sistem kekebalan tubuh adalah mekanisme pertahanan tubuh dari penyakit dan infeksi. Tentu,

sistem kekebalan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik akan menyumbang daftar panjang pada gangguan

sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan tubuh adalah mekanisme yang paling kuat dan efisien tubuh untuk

mempertahankan diri melawan segala macam bakteri dan parasit yang selalu mengancam setiap saat. Sistem

kekebalan tubuh yang menemukan benda yang dianggap asing dalam tubuh, maka ia akan mengambil tindakan

untuk menghancurkannya. Ada beberapa jenis bakteri, virus, dan benda asing berbahaya lainnya yang

berpotensi menginfeksi dalam tubuh manusia. Sistem kekebalan tubuh memproduksi antibodi khusus untuk

setiap jenis mikroorganisme. Jika tidak demikian, kita semua akan menjadi korban dari masalah infeksi yang

membahayakan tubuh. Namun, sistem kekebalan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik justru berbahaya di

dalam tubuh, yang menyebabkan sejumlah besar penyakit dan gangguan kesehatan.

  1. KLASIFIKASI SISTEM IMUN

 

  1. Sistem imun non spesifik ( Innate Immunity system )

Sistem imun bawaaan yang diperoleh sejak lahir. Respon berupa fagositosis dan peradangan (inflamasi).

Sistem ini dapat berupa respon langsung terhadap antigen dan tidak ditunjukan langsung terhadap

mikroorganisme. merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi serangan dari berbagai

mikroorganisme. Sistem ini disebut non spesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu.

Komponen-komponen sistem imun non spesifik terdiri atas :

  1. Pertahanan fisis dan mekanis

Kulit, selaput lendir, silia pada saluran pernapasan, batuk dan bersin dapat mencegah berbagai kuman

patogen masuk ke dalam tubuh. Kulit yang rusak misalnya oleh luka bakar dan selaput lendir yang

rusak oleh karena asap rokok akan meningkatkan resiko infeksi

  1. Pertahanan biokimia

Asam hidroklorida dalam cairan lambung, lisozin dalam keringat, ludah, air mata dan air susu dapat

melindungi tubuh terhadap kbakteri gram positif dengan jalan menghancurkan dinding bakteri tersebut.

  1. Pertahanan humoral

– Komplemen

Komplemen mengaktifkan fagosit dan membantu destruksi bakteri dengan jalan opsonisasi.

– Interferon

Interferon adalah suatu glikoprotein yang dihasilkan berbagai sel manusia yang mengandung

nukleus dan dilepas sebagai respons terhadap infeksi virus. Interferon mempunyai sifat antivirus

dengan jalan menginduksi sel-sel  sekitar sel yang telah terserang virus tersebut. Disamping itu

interferon dapat pula mengaktifkan natural killer cell/sel NK untuk membunuh virus.

– C Reactive Protein (CRP)

CRP dibentuk tubuh pada keadaan infeksi. Perannya ialah sebagai opsonin dan dapat

mengaktifkan komplemen.

  1. Pertahanan selular

– Fagosit

Meskipun berbagai sel dalam tubuh dapat melakukan fagositosis, sel utama yang berperan pada

pertahanan non spesifik adalah sel mono nuclear (monosit dan makrofag) serta sel

polimorfonuklear seperti neutrofil. Kedua golongan sel tersebut berasal dari sel hemopoietik yang

sama. Fagositosis dini yang efektif pada invasi kuman akan dapat mencegah timbulnya penyakit.

Proses fagositosis terjadi dalam beberapa tingkat seperti kemotaksis, menangkap, membunuh, dan

mencerna.

 

– Natural Killer Cell

Sel NK adalah sel limfosit tanpa ciri-ciri limfoid sistem imun spesifik yang ditemukan dalam

sirkulasi.  Oleh karena itu disebut juga sel non B non T atau sel populasi ketiga atau null cell. Sel

NK dapat menghancurkan sel yang mengandung virus atau sel neoplasma. Interferon

mempercepat pematangan dan meningkatkan efek sitolitik sel NK.

  1. Sistem imun spesifik ( Adaptive Immunity System )

Sistem imun spesifik mempunyai kemampuan untuk  mengenal benda yang di anggap asing bagi dirinya.

Benda asing yang pertama kali timbul dalam badan yang segera dikenal sistem imun spesifik, akan

mensensitasi sel-sel imun tersebut. Sistem imun spesifik dapat bekerja sendiri untuk menghancurkan benda

asing yang berbahaya bagi badan.

  1. Sistem imun spesifik humoral, yang berperan dalam sistem imun spesifik humoral adalah lomfosit B

atau sel B. Sel B tersebut berasal dari sel asam multipoten.

  1. Sistem imun spesifik seluler, yang berperan dalam sistem imun spesifik selular adalah limfosit  T atau

sel T. Sel tersebut juga berasal dari sel asam yang sama seperti sel B, tetapi proliferasi dan

diferensiasinya terjadi di dalam kelenjar timus. Berbeda dengan sel B, sel T terdiri atas beberapa

subset sel yang mempunyai fungsi yang berlainan. Fungsi sel T umumnya adalah :

  • Membantu sel B dalam memproduksi antibodi
  • Mengenal dan menghancurkan sel yang terinfeksi virus
  • Mengaktifkan makrofag dalam fagositosis
  • Mengontrol ambang dan kualitas sistem imun

  1. KOMPONEN-KOMPONEN PENTING DALAM IMUNITAS

  1. Sel-sel radang
  2. Neutrofil

Neotrofil adalah sel darah putih pertama yang datang ke tempat peradangan. Sel-sel ini segera

memulai memakan sel-sel dan sisa-sisa sel.

  1. Eosinofil

Eosinofil muncul di tempat-tempat respon alergi dan tampaknya berfungsi protektif bagi pejamu dengan

mengakhiri respons peradangan. Sel-sel ini terutama penting pada pertahanan terhadap infeksi parasit

dan berfungsi memfagositosis sisa-sisa sel dengan tingkat yang lebih rendah dari pada neutrofil.

  1. Basofil

Basofil bersirkulasi dalam aliran darah dan apabila cedera atau infeksi, mengeluarkan histamin,

bradikinin dan serotonin. Zat-zat ini meningkatkan permeabilitas kapiler dan aliran darah ke

daerah/tempat yang bersangkutan. Basofil mengeluarkan bahan alami anti pembekuan heparin, yang

memastikan bahwa jalur pembekuan dan koagulasi tidak terus berlangsung tanpa pengawasan. Basofil

juga terlibat dalam pembentukan respon alergik. Sel-sel ini memiliki fungsi yang sangat mirip dengan

sel mast, yakni sel pencetus peradangan jaringan tertentu.

  1. Monosit

Monosit beredar dalam darah dan masuk ke jaringan yang cedera melewati membran kapiler yang

menjadi permeable sebagai akibat dari reaksi peradangan. Monosit tidak bersifat fagositik, tetapi

setelah beberapa jam berada di jaringan, sel ini berkembang matang menjadi makrofag

  1. Makrofag

Makrofag adalah sel besar yang mampu mencerna bakteri dan sisa sel dalam jumlah yang sangat

besar. Makrofag dapat memfagositosis sel darah merah dan sel darah putih lain yang telah dilisis.

Sebagian sel makrofag mengkoloni jaringan, misalnya jaringan kulit, kelenjar limfe, dan paru selama

berbulan bulan atau bertahun tahun. Sel-sel ini berfungsi menyapu berbagai mikroorganisme yang

masuk ke dalam tubuh melalui rute-rute tertentu.

  1. Sel-sel respons imun

Limfosit adalah sel darah putih kecil yang bertanggung jawab untuk meningkatkan respon imun secara

efektif terhadap antigen. Sel ini mempunyai 2 tipe yaitu :

  1. Sel B

Sel B menyusun sistem imun humoral (Immunity Humoral), yang berarti bahwa sel-sel tersebut

 

bersirkulasi dalam darah (humor, cairan). Pematangan sel B terjadi selama pergerakan melintasi hati,

limpa atau kelenjar limfe. Sel B matang beredar dalam darah dalam keadaan inaktif. Sel ini menjadi

aktif setelah terpapar ke mikroorganisme spesifik (atau protein lain) dimana sel B ini telah diprogram

secara genetis selama perkembangannya untuk merespon. Setelah diaktifkan sel B menghancurkan

bahan/zat yang mengaktifkannya.

  1. Sel T

Sel T menyusun sistem imun sel (Cellular Immunity). Pematangan sel T berlangsung selama

pergerakan melalui kelenjar timus, sewaktu sebuah sel T bertemu dengan mikroorganisme (atau

protein lain) dimana sel T tersebut telah diprogram secara genetis untuk berespon terhadapnya, maka

sel T tersebut secara langsung menyerang dan menghancurkan rangsangan tersebut. Sel T terdiriatas

beberapa subset sel yaitu :

– Sel Th (T helper)

Sel Th dibagi menjadi Th

1

dan Th

menolong sel B dalam memproduksi antibodi. Untuk

memproduksi antibodi, kebanyakan antigen (T dependent antigen) harus dikenal terlebih dahulu,

baik oleh sel T maupun sel B. sel Th (Th1) berpengaruh atas sel Tc dalam mengenal sel yang

terkena infekasi virus, jaringan cangkok alogenik dan sel kanker. Istilah sel T inducer dipakai untuk

menunjukkan aktivitas sel Th yang mengaktifkan subset sel T lainnya. Sel Th juga melepas

limfokin; limfokin asal Th

1

2

mengaktifkan makrofag, sedang limfokit asal sel Th

mengaktifkan sel

B/sel plasma yang membentuk antibodi.

– Sel Ts (T supresor)

Sel Ts menekan aktivitas sel T yang lain dan sel B. menurut fungsinya, sel Ts dapat dibagi menjadi

sel Ts spesifik untuk antigen tertentu dan sel Ts non-spesifik.

– Sel Tdh atau Td (delayed hypersensitivity)

Sel Tdh adalah sel yang berperan pada pengerahan makrofag dan sel inflamasi lainnya ke tempat

terjadinya reaksi lambat. Dalam fungsinya, memerlukan rangsangan dari sel Th

– Sel Tc (cytotoxic)

2

1.

Sel Tc mempunyai kemampuan untuk menghancurkan sel alogenik, sel sasaran yang

mengandungvirus dan sel kanker.sel  Th dan Ts disebu tjuga sel  T regulator sedang sel Tdh dan

Sel Tc disebut oleh sel efektor.  Dalam fungsinya, sel Tc memerlukan rangsangan dari sel Th

.

– Sel K

Sel K ADCC (Antibodi Dependent Cell Cytotoxicity) adalah sel yang tergolong dalam sistem imun

non spesifik tetapi dalam kerjanya memerlukan bantuan  imunoglobullin

  1. Tanda-tanda Inflamasi
  2. Eritema, terjadi pada tahap inflamasi. Darah berkumpul pada daerah yang cedera jaringan akibat

pelepasan mediator kimia (prostaglandin, histamine, bradikinin, kinin) → histamin mendilatasi pembuluh

darah.

  1. Edema, plasma merembes ke dalam jaringan interstitial pada tempat cedera. Kinin mendilatasi anterior,

dan meningkatkan permeabilitas kapiler.

  1. Panas, akibat bertambahnya aliran darah dan mungkin pula dengan pirogen endogen (substansi yang

menimbulkan demam) yang mengganggu pusat pengatur panas di hipotalamus.

  1. Nyeri, disebabkan oleh pembengkakan dan pelepasan mediator kimia.
  2. Fungsi Laesa, hilangnya fungsi disebabkan karena pengumpulan cairan pada tempat cedera jaringan

dan karena rasa nyeri yang mengurangi mobilitas pada daerah yang terkena.

  1. ANTIGEN DAN ANTIBODI

  1. Antigen atau imunogen adalah setiap bahan yang dapat menimbulkan reaksi imun secara spesifik pada

hewan dan manusia. Sewaktu mikroorganisme masuk ke dalam tubuh, maka akan berinteraksi dengan

limfosit yang mengandung reseptor yang spesifik untuk berbagai molekul antigenik yang dimilikinya.

  1. Antibodi atau immunoglobulin (Ig) adalah golongan protein yang dibentuk sel plasma (proliferasi sel B)

akibat kontak dengan antigen.  Antibodi mengikat antigen yang menimbulkannya secara spesifik. Sebuah

molekul antibodi umumnya mempunyai 2 tempat pengikatan antigen yang identik dan spesifik untuk epitop

 

yang menyebabkan produksi antibodi tersebut. Masing-masing molekul terdiri atas 4 rantai polipeptida  yaitu

2 rantai berat (Heavychain) dan 2 rantai ringan (light chain) yang dihubungkan oleh jembatan disulfida untuk

membentuk suatu molekul berbentuk Y. pada kedua ujung molekul itu terdapat daerah variabel (V) rantai

berat dan ringan. Disebut demikian karena urutan asam amino pada bagian ini sangat bervariasi dari satu

antibodi ke antibodi yang lain. Antibodi atau immunoglobulin terbagi dalam 5 jenis yaitu :

  1. Immunoglobullin Gamma (IgG)

Merupakan antibodi yang paling banyak dalam sirkulasi. Antibodi ini dengan mudah melewati dinding

pembuluh darah dan memasuki cairan jaringan. IgG dapat menembus plasenta dan memberikan

kekebalan pasif dari ibu ke janin. IgG melindungi tubuh dari bakteri, virus dan toksin yang beredar

dalam darah dan limfa, serta memicu kerja sistem komplemen.

  1. Immunoglobullin Alfa (IgA)

IgA dihasilkan paling banyak dalam bentuk 2 monomer Y oleh sel-sel yang terdapat berlimpah dalam

membrane mukosa. Fungsi utamanya adalah untuk mencegah pertautan virus dan bakteri ke

permukaan epithelium. IgA ditemukan dalam sebagian besar sekresi tubuh seperti ludah, keringat dan

air mata. Kehadirannya dalam kolostrum dapat melindungi bayi dari infeksi gastrointestinal.

  1. Immunoglobullin Mu (IgM)

Merupakan antibodi pertama yang bersirkulasi sebagai respons terhadap pemaparan awal ke suatu

antigen. Konsentrasinya dalam darah menurun secara cepat. Hal ini sangat bermanfaat secara

diagnostik karena dapat mengindikasikan adanya infeksi baru oleh patogen. IgM terdiri dari 5 monomer

berbentuk Y yang tersusun dalam struktur pentamer. Tempat pengikatan yang banyak itu membuatnya

menjadi sangat efektif dalam mengaglutinasi atau menggumpalkan antigen dan dalam reaksi yang

melibatkan komplemen. Namun, IgM terlalu besar untuk menembus plasenta dan tidak memberikan

kekebalan maternal.

  1. Immunoglobullin Delta (IgD)

Terutama ditemukan pada permukaan sel B, yang kemungkinan berfungsi sebagai suatu reseptor

antigen yang diperlukan untuk memulai diferensiasi sel-sel B menjadi plasma dan sel-sel memori. IgD

tidak mengaktifkan sistem komplemen dan tidak dapat menembus plasenta.

  1. Immunoglobullin Epsilon (IgE)

Antibodi ini berukuran sedikit lebih besar dibanding molekul IgG dan hanya mewakili sebagian kecil dari

total antibodi dalam darah. Daerah ekor berikatan dengan reseptor pada sel mast dan basofil. Dan

ketika dipicu oleh antigen, menyebabkan sel-sel itu membebaskan histamine dan zat kimia lain yang

menyebabkan reaksi alergi.

  1. Proses pembuangan antigen oleh antibodi

Pengikatan antibodi dengan antigen untuk membentuk kompleks antigen-antibodi merupakan dasar dari

beberapa mekanisme pembuangan antigen. Yang paling sederhana adalah netralisasi, dimana antibodi

berikatan dan menghambat aktivitas antigen tersebut. Dapat juga terjadi proses opsonisasi yaitu proses

dimana mikroba yang telah dilapisi dengan antibodi dilenyapkan oleh fagositosis.

Jalur klasik dapat dimulai ketika antibodi IgM atau IgG berikatan dengan suatu pathogen (bakteri).

Komponen-komponen pertama menghubungkan dua antibodi yang terikat sehingga diaktifkan dan memulai

rentetan reaksi itu. Akhirnya protein komplemen membangkitkan suatu kompleks serangan membran (MAC)

yang membentuk pori berdiameter 7-10 nm pada membrane bakteri itu. Ion dan air mengalir ke dalam sel

yang menyebabkan sel tersebut membengkak dan lisis.

  1. RESPON IMUN

Respon imun berawal sewaktu sel B atau sel T berikatan seperti kunci dan gemboknya  (Lock & Key), dengan

suatu protein yang di identifikasi oleh sel T atau B sebagai benda asing. Selama masa janin dihasilkan ratusan

ribu sel B dan T yang memiliki potensi berikatan dengan protein spesifik. Protein yang dapat berikatan dengan

sel T atau B disebut Antigen. Apabila suatu antigen menyebabkan sel T atau B menjadi aktif, bermultiplikasi dan

berdiferensiasi lebih lanjut, maka antigen itu dikatakan bersifat imunogenik.

  1. Respon sel T terhadap antigen

Sewaktu berikatan dengan antigen imunogenik, sel T terangsang untuk bereproduksi dan menghasilkan 5

subtipe sel T yang mampu bekerja pada satu antigen. Kelima jenis sel T tersebut adalah:

 

  1. Sel T sitotoksik, secara langsung menghancurkan antigen dengan mengeluarkan bahan-bahan kimia

toksik yang bekerja dengan cara melubangi sel-sel yang membawa antigen. Sel T sitotoksik disebut

CD8 atau sel pembunuh.

  1. Sel hipersensitivitas tipe lambat, merangsang sel-sel peradangan (makrofag) untuk berpartisipasi dalam

respons antigen dan bekerja dengan cara mengeluarkan berbagai mediator kimia yang disebut limfokin.

  1. Sel T helper, mensekresikan bahan-bahan kimia untuk merangsang respons imun humoral dan

membantu keberhasilan sel B menghancurkan mikroorganisme. Sel ini disebut T4 atau CD4.

  1. Sel T penekan, penting untuk menghentikan respons imun seluler maupun humoral. Apabila fungsi sel

T terganggu maka reaksi imun dapat menjadi tidak terkontrol dan diarahkan terhadap antigen-antigen

diri (self).

  1. Sel pengingat, memungkinkan pejamu untuk berespon segera terhadap antigen berikutnya.

  1. Respons sel B terhadap antigen

Apabila sel B berikatan dengan antigen spesifiknya untuk pertama kali, maka sel tersebut mengalami

langkah pematangan akhir dan saat itu juga menjadi sel plasma atau sel pengingat (memory cell). Sel

plasma ditemukan dalam peredaran darah, limpa, dan tempat-tempat infeksi atau peradangan. Sel plasma

berespons terhadap suatu antigen dengan menghasilkan antibodi yang berikatan dengan antigen

bersangkutan. Apabila sel plasma menjadi aktif maka sel tersebut dapat membelah dan menghasilkan lebih

dari 10 juta salinan antibodi dalam 1 jam. Pembentukan antibodi setelah pajanan primer sel B terhadap

suatu antigen dapat memakan waktu 2 minggu sampai lebih dari 1 tahun, tetapi secara normal antibodi

terhadap suatu antigen telah dapat terdeteksi dalam 6 bulan. Apabila di lain waktu antigen tersebut

ditemukan kembali, maka respons antibodi terjadi hampir  saat itu juga.

  1. PENYAKIT SISTEM KEKEBALAN TUBUH

Penyakit dan gangguan sistem kekebalan tubuh yang dikategorikan tergantung dari aktivitas sistem kekebalan

tubuh itu sendiri. Sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif berpotensi banyak untuk membahayakan kesehatan,

dari pada sistem kekebalan tubuh yang kurang aktif. Berikut ini adalah daftar gangguan sistem kekebalan tubuh,

tergantung pada aktivitas sistem kekebalan tubuh:

❖ Sistem kekebalan tubuh kurang Aktif bisa menyebabkan

  1. Immune Deficiency Conditions

Immune Deficiency Conditions: adalah kelompok besar penyakit sistem kekebalan tubuh yang terdiri

dari berbagai macam penyakit yang menekan sistem kekebalan tubuh. Seringkali, penyebab Immune

Deficiency Conditions didasari oleh penyakit kronis. Gejala-gejala dari Immune Deficiency Conditions

adalah sama dengan penyakit apa yang mendasarinya

  1. SCID (Severe Combined Immunodeficiency)

SCID: SCID adalah gangguan sistem kekebalan tubuh yang diturunkan. Penyebab SCID adalah

serangkaian kelainan genetik, terutama dari kromosom X. Beberapa jenis infeksi yang berulang umum

terjadi pada orang yang menderita SCID. Selain itu, penderita juga rentan terhadap meningitis,

pneumonia, campak, cacar air, candida oral, cold sores, kelainan darah, dll. Penyakit sistem kekebalan

tubuh SCID pada anak-anak akan mulai terlihat dalam 3 bulan pertama kelahiran.

  1. AIDS

AIDS:  HIV / AIDS adalah masalah kegagalan sistem kekebalan tubuh  yang serius, yang merupakan

penyebab terbanyak kematian di seluruh dunia. AIDS akan terjadi pada tahap akhir dari perkembangan

HIV, dan menyebabkan sistem kekebalan tubuh gagal total – dan setelah itu kesehatan penderita akan

memburuk perlahan-lahan. AIDS dianggap sebagai penyakit menular seksual yang paling mengancam

jiwa, yang dapat ditularkan melalui kontak fisik(seksual), transfusi darah, berbagi jarum suntik, dan

sejenisnya. Kemungkinan bertahan hidup pada pasien AIDS bisa ditingkatkan, setelah didiagnosis dan

menjalani perawatan. Penyakit Sistem kekebalan tubuh AIDS akan membuat penderita rentan pilek dan

flu, dan yang serius seperti pneumonia dan kanker.

❖ Sistem kekebalan yang terlalu aktif bisa menyebabkan

  1. Alergi (yang disebabkan oleh jenis makanan, obat-obatan, sengatan serangga, atau zat tertentu)

Alergi: Alergi bisa didefinisikan sebagai respon sistem kekebalan yang berlebih terhadap zat yang

umumnya tidak berbahaya. Ada banyak alergen, seperti serbuk sari, spora jamur, getah karet, dan

makanan tertentu seperti kacang atau obat-obatan seperti penisilin. Dalam banyak kasus, ada lebih dari

satu alergen yang merangsang reaksi alergi. Sementara itu gejala alergi sering merupakan masalah

ringan, dan bantuan medis sangat disarankan untuk mendiagnosis dasar penyebabnya.

  1. Anafilaksis

Anafilaksis: Anafilaksis adalah bentuk alergi yang serius dan ekstrim. Dalam kondisi ini, alergen seperti

makanan, obat-obatan, atau gigitan serangga, bertindak bisa memicu dan menyebabkan serangkaian

gejala fisik yang tidak menyenangkan seseorang. Ruam gatal, tenggorokan bengkak, dan penurunan

tekanan darah, adalah beberapa gejala umum anafilaksis. Anafilaksis dapat menyebabkan situasi

darurat, jika tidak didiagnosis dan diobati pada waktunya.

  1. Asma

Asma: Asma adalah gangguan paru-paru kronis, yang disebabkan karena peradangan pada saluran

udara. Alergen, iritasi atau bahkan stimulan seperti aktivitas fisik dapat memicu peradangan dan

menyebabkan berbagai ketidaknyamanan dalam diri seseorang. Gejala-gejala asma meliputi mengi,

batuk, sesak napas, sesak dada, dll

  1. Penyakit autoimun

Penyakit autoimun: Penyakit autoimun adalah kelompok gangguan sistem kekebalan tubuh, dimana

sel-sel sistem kekebalan tubuh salah menafsirkan sinyal, dan mulai menyerang sel-sel tubuh itu sendiri.

Penyakit autoimun menyebabkan bahaya bagi kesehatan yang serius. Penyakit autoimun bisa

dianggap sebagai kategori yang sama sekali berbeda dengan gangguan kekebalan tubuh.

❖ Gangguan Sistem Kekebalan Tubuh lain

  1. Chediak Higashi Syndrome

Chediak-Higashi Syndrome: Sindrom Chediak-Higashi adalah autosomal resesif gangguan langka yang

disebabkan oleh mutasi pada Lyst (lisosomal Trafficking Regulator) gen. Sindrom ini mempengaruhi

semua organ utama tubuh, dan menghentikan fungsinya. Hal ini merusak sel-sel sistem kekebalan

tubuh dan membuatnya tidak efektif lagi terhadap mikro-organisme dan bakteri lainnya. Mereka yang

menderita penyakit ini ditandai melalui infeksi yang terjadi secara berulang. Transplantasi sumsum

tulang merupakan pilihan pengobatan yang paling efektif dan sukses untuk pasien sindrom

Chediak-Higashi. Vitamin jugab bisa diresepkan untuk membantu meningkatkan sistem kekebalan

tubuh, namun jika kondisi pasien tidak terlalu parah.

  1. Common Immunodeficiency Variable

Common Immunodeficiency Variable: adalah ketikatingkat atau jumlah antibodi rendah dalam tubuh.

Gangguan ini kebanyakan ditemukan pada orang dewasa. Hal ini isa terjadi setelah kelahiran, namun

gejalanya tak akan terlihat sampai seseorang memasuki usia dua puluhan. Gejala termasuk infeksi

bakteri dari telinga, sinus, bronkus, dan paru-paru. Bengkak nyeri sendi pada lutut, pergelangan kaki,

siku atau pergelangan tangan adalah gejala umum dari kondisi ini. Beberapa pasien mungkin

melaporkan mengalami pembesaran kelenjar getah bening atau limpa.

  1. Hay Fever

Hay Fever: atau demam Hay sangat mirip dengan alergi, dan disebabkan oleh partikulat udara seperti

serbuk sari, spora jamur, atau bahkan bulu binatang. Hal ini juga disebut dengan alergi rhinitis dan kini

telah mempengaruhi jutaan orang. Gejala kondisi demam hay meliputi, hidung meler, mata berair,

bersin-bersin dll, yang sangat mirip dengan flu. Gejala akan timbul selama Anda kontak dengan

alergen.

  1. Hives

Hives: Hives adalah respon kulit terhadap wabah alergen. Alergen dalam hal ini adalah makanan atau

kontak dengan tanaman tertentu. Hives berkembang pada permukaan kulit, sebagai reaksi terhadap

alergen. Penyakit ini menimbulkan rasa-gatal, dan berbentuk bulat, atau mendatar. Terlepas dari kulit

gatal, gejala lainnya termasuk pembengkakan bibir, lidah, dan wajah.

  1. HTLV (Human T-lymphotropic Virus Type I)

HTLV: Human T-cell lymphotropic viruses (retroviruses) dan HTLV-II, adalah masalah serius yang

mempengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia. Hal ini adalah yang paling umum dialami oleh

kalangan pengguna narkoba dan orang-orang dengan kehidupan seks bebas. Orang dengan ulkus

kelamin dan riwayat sifilis  juga rentan terhadap HTLV. Modus penularan HTLV adalah melalui

hubungan seksual, transfusi darah, atau selama kehamilan.

  1. Hyper-IgE Syndrome (Hyperimmunoglobulin E Syndrome)

Hyper-IgE Syndrome: Hyperimmunoglobulin E syndrome atau sindrom Job adalah sekelompok

gangguan kekebalan tubuh. Kondisi ini ditandai oleh infeksi staphylococcus berulang disertai dengan

ruam kulit yang mirip dengan eksim. Ini adalah kelainan genetik, di mana ia dapat menjadi dominan

atau resesif bila diturunkan.

  1. Hyper-IgM Syndrome (Hyper Immunoglobulin M Syndrome)

Hyper-IgM Syndrome: Hyper IgM adalah penyakit penurunan imunitas langka. Dalam kondisi ini, sistem

kekebalan tubuh gagal untuk menghasilkan dua jenis antibodi yaitu IgA dan IgG. Penyebab penyakit ini

adalah gen di T-sel yang rusak. Karena kecacatan ini, sel B tidak mendapatkan sinyal untuk

menghasilkan antibodi IgA dan IgG, dan dengan demikian akan terus memproduksi antibodi IgM.

  1. Primary Immune Deficiency

Penurunan imunitas primer (Primary Immune Deficiency): penyakit penurunan imunitas primer ini

adalah sekelompok penyakit sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh kelainan genetik. Dalam hal

ini, orang yang dilahirkan dengan sistem kekebalan tubuh yang rusak. Gejala-gejala dan efek penyakit

ini sama dengan AIDS, tapi tidak seperti AIDS, karena penyebabnya tidak diperoleh seperti AIDS.

  1. Selective IgA Defisiensi (Selective Immunoglobulin A Defisiensi)

Selective IgA Deficiency: Ini adalah penurunan imun khusus, di mana sistem kekebalan tubuh gagal

menghasilkan antibodi tipe IgA. Antibodi ini bertugas melindungi tubuh terhadap infeksi pada selaput

lendir yang melapisi mulut dan saluran pencernaan. Jelas, tanpa adanya antibodi ini, tubuh akan

terkena beberapa infeksi pada selaput lendir.

  1. Alergi Kulit

Alergi Kulit: alergi kulit mirip dengan alergi lain, di mana hanya merespon imunologi yang melalui kulit.

Respon Alergi kulit ini diperburuk oleh sistem kekebalan tubuh terhadap zat berbahaya tertentu. Bentuk

Alergi kulit ditandai dengan warna merah, gatal kulit di mana yang mengalami lesi.

  1. XLA (X-Linked agammaglobulinemia)

X-Linked agammaglobulinemia: adalah bentuk kelainan genetik, di mana kemampuan tubuh untuk

melawan infeksi terhambat. Sistem kekebalan tubuh tidak cukup memproduksi antibodi untuk

memerangi infeksi. Tentu saja pada akhirnya tubuh menjadi bulan-bulanan sejumlah besar infeksi.

Daftar di atas hanyalah beberapa gangguan kekebalan tubuh utama. Terlepas dari beberapa gangguan ini,

masih ada beberapa penyakit kekebalan tubuh genetik, dan yang telah mempengaruhi jutaan orang di seluruh

dunia. Karena sistem kekebalan tubuh bertugas melindungi kita dari berbagai infeksi dan penyakit, upaya

khusus yang harus dilakukan adalah memperkuatnya. Secara umum istilah Infeksi biasa kita definisikan sebagai suatu penyakit yang diakibatkan karena tubuh kita telah kemasukan kuman atau virus, ini benar akan tetapi pengertian infeksi yang lebih tepatnya adalah suatu keadaan dimana adanya suatu organisme pada jaringan tubuh yang disertai dengan gejala klinis baik itu bersifat lokal maupun sistemik seperti demam atau panas sebagai suatu reaksi tubuh terhadap organisme tersebut. Jika gejala demam tersebut bersifat mendadak, maka disebabkan oleh infeksi virus. Akan tetapi jika demamnya secara bertahap atau lambat, biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri.

Maka dari itu, diperlukan immunomodulator atau imunostimulan yang dapat merangsang sistem imun atau

pertahanan tubuh. Immunomodulator atau imunostimulan adalah senyawa tertentu yang dapat meningkatkan

mekanisme pertahanan tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik. Aktivitas immunomodulator dari

tanaman adalah melalui aksi nonspesifik. Aksi non spesifik yaitu, melalui penginduksi para imunitas. Sel tujuan

adalah makrofag, granulosit, limfosit T dan B.

MEKASNISME KERJA HERBAL ISPAHI

Ispahi diformulasikan khusus menggunakan bahan-bahan ekstrak terstandarisasi untuk memelihara daya tahan

tubuh terhadap aktivitas berlebih yang berat dan sangat padat dengan mekanisme kerja sebagai berikut:

  1. Immunomodulator dan immunostimulan

Ekstak herba Phyllanthus niruri melalui uji klinis terbukti menunjukkan aksinya sebagai immunomodulator   

yang berperan membuat sistem imun tubuh lebih aktif menjalankan tugasnya, sekaligus menguatkan sistem

imun (imunostimulator) tubuh. Selain itu senyawa lain yang berperan adalah polisakarida (B-D-glucan,

protein ling zhi-8, triterpenoid), betaglukan.  Sistem kekebalan tubuh bekerja dengan 3 cara, yaitu:

  1. Mencegah masuknya bakteri dan virus ke dalam tubuh
  2. Jika bakteri dan virus berhasil masuk ke dalam tubuh, sistem kekebalan akan cepat mendeteksinya dan

melakukan proses eliminasi sebelum zat asing ini berkembangbiak.

  1. Jika bakteri dan virus terlanjur bereproduksi, sistem kekebalan tubuh akan mulai memberantasnya.

Aktivitas imunomodulator dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada penyakit infeksi, kanker dan

pencegahan penyakit infeksi.

Dibawah ini penjelasan singkat bahwa efek immunomodulator/immunostimulan yang terkandung dalam

ekstrak dapat digunakan sebagai terapi tambahan untuk beberapa penyakit :

1) Hepatitis

Penelitian menunjukan bahwa ekstak Phyllanthus niruri mampu menghambat kinerja polimerisasi DNA     

oleh virus hepatitis B dan mengikat antigen virus itu, ditunjukan dengan nilai HbsAg yang negatif.

Perbaikan sel-sel hati terjadi melalui peningkatan jumlah enzim yang berperan dalam antioksidan. Serta

terdapat penelitian yang mengatakan bahwa senyawa aktif filantin, hipofilantin, triakontanal dan

trikontanal aktif sebagai senyawa antihepatotoksik.

2) Tuberkulosis

Berdasarkan uji klinis ekstrak Phyllantus niruri mampu meningkatkan kadar IFNg (interferon gamma)     

pada benderita tuberkulosis. Mampu meningkatkan sistem imunitas penderita TBC dengan cara

meningkatkan CD4 limfosit T dan rasio CD4/CD8 limfosit T.

3) HIV AIDS ( Acquired Immune Deficiency Syndrome )

Sebagai anti-HIV dengan cara menekan muatan virus, meningkatkan jumlah CD 4 dan menghambat

IL-6, IL-1b.

– Meningkatkan sekresi Tumor Necrosis Factor-alpha  (TNF-a)

kerja enzim HIV-1 reverse transcriptase (enzim yang membantu perubahan RNA si pembawa informasi

genetik menjadi DNA), sehingga pembentukan protein aktif dan pembentukan virus baru juga akan

terlambat.

4) ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)

Mengatasi ISPA yang meliputi gangguan saluran pernapasan bagian atas (atas), bagian bawah

(paru-paru), dan organ-organ adneksa pernapasan lainnya (sinus, rongga telinga tengah, pleura).

Mengatasi penyakit ISPA dengan merangsang kinerja limfosit T, komponen imunitas penting dalam

tubuh.

5) Alzheimer

Mengatasi gangguan pada fungsi otak yang menyebabkan demensia (melemahnya daya ingt dan

perubahan kepribadian) dengan meningkatkan respon proliferasi sel T dan sel B, dua sel yang

berperan aktif sebagai pendukung sistem imun tubuh dalam Melawan penyakit akibat penuaan.

6) Kanker

– Merangsang produksi interferon I dan II sebagai antikanker

– Menghambat protein kinase C, senyawa yang dibutuhkan kanker untuk berkembang biak

– Polisakarida juga dapat merangsang sel mononuclear darah memproduksi sitokin, TNF-a, INF-g,

– Merangsang aktivitas sel natural killer (NK), sel killer (K) sampai terjadi peningkatan toksisitas     

keduanya, sehingga sel-sel abnormal atau yang mengalami mutasi akan segera dihancurkan.

Serta kandungan germanium dapat mengatasi perkembangan sel-sel abnormal

– gingerol memiliki efek antiangiogenesis, menghambat peredaran darah atau pembentukan

pembuluh darah baru pada sel tumor atau kanker.

– Monoterpen dan epikuminol berkhasiat sebagai antineoplstik (antikanker)/antitumor terbukti dapat

menonaktifkan pertumbuhan sel kanker payudara.

  1. Analgesik dan Antiinflamasi

Mengatasi atau mengurangi rasa sakit/nyeri, bengkak dan radang yang mungkin timbul sebagai respon

adanya gangguan di tubuh, baik seperti infeksi, kejang otot dsb. Berikut kandungan senyawa yang berperan

dan mekanisme kerjanya:

Kandungan senyawa aktif dalam ekstrak herba Zingiber officinale (kuersetin, gingerdion: gingerol,        

shogaol, zingeron) dan dalam ekstrak herba Curcuma domestica (trieti lkurkumin, TEC) mampu       

menghambat pembentukan prostaglandin (perantara terbentuknya radang) dan sintesis leukotrien yang

bertanggung jawab terhadap rasa sakit menurun.  

Senyawa thymoquinone dan minyak atsiri (nigellone) menghambat jalur siklooksigenase (COX) dan

5-lipooksigenase (5-LO) dalam metabolisme asam arakhidonat.

  1. Melancarkan aliran darah dan oksigen

Berbagai penyakit yang menyerang sistem imunitas tubuh pada umimunya akan mengakibatkan

menyempitan pembuluh darah sebagai respon dari system imun itu sendiri, yang menyebabkan aliran darah

melambat. Berikut ini kandungan senyawa-senyawa dalam formulasi yang berperan dalam melancarkan

aliran darah, sebagai berikut :

– Germanium yang mampu melancarkan peredaran darah

– Scopoletin, mengikat sokrotonin (pemicu penyempitan pembuluh darah), membantu membongkar

sumbatan di pembuluh darah sehingga melebarkan pembuluh darah dan aliran darah menjadi lancar.

– Ekstrak herba Morinda citrifolia bersifat antikolestrol dengan menurunkan kadar kolestrol jahat (LDL)   

dalam darah, meningkatan kadar NO (nitric oxide) dalam darah yang berperan merelaksasi pembuluh

darah dan menghancurkan tumpukan kolestrol.

– Ekstrak herba Zingiber officinale merangsang pengelepasan hormon adrenalin yang dapat   

memperlebar pembuluh darah sehingga tubuh menjadi hangat dan darah mengalir lebih lancar.

– Triterpenoid yang mampu melenturkan otot polos, pembuluh darah, memperbaiki viskositas/kekentalan

darah karena semakin rendah viskositasnya (encer) maka akan lebih banyak oksigen yang terlarut di

dalamnya.

  1. Menjaga kesehatan otak

Mencegah menurunnya fungsi otak pada orang lanjut usia (alzhaimer/demensia) karena mampu menekan

laju penurunan densitas sinaptik protein yang sehari-hari bertugas dalam regenerasi otak. Efek dari

tercapainya aliran darah yang lancar juga akan menjamin otak mendapatkan suplai oksigen yang cukup,

dimana oksigen merupakan salah satu nutrisi yang dibutuhkan otak. Serta mengandung senyawa

adenosine yang melindungi saraf otak.

  1. Melancarkan sistem pencernaan dan metabolisme tubuh

– Senyawa kurkumin dan sesquiterpen (germakron, kurzerenon dan germakron epoksida) dalam ekstrak

Curcuma zedoaria  berperan sebagai hepatoprotektor, melindungi organ hati

– Kandungan enzim protease dan lipase dalam ekstrak herba Zingiber officinale dapat membantu         

menyerap dan mencerna makanan (termasuk memecah protein,lemak) sehingga nafsu makan juga

dapat meningkat.

– Kurkumin merangsang kerja dinding empedu untuk mengeluarkan lebih banyak cairan pemecah lemak,

mengurangi gerakan usus (efek antidiare).

– Proxeronine dalam ekstrak herba Morinda Citrifolia memiliki kemampuan meningkatkan kadar xeronine     

yang berfungsi sebagai regulator gula darah dan membantu kerja insulin

– Triterpenoid ampuh mengurangi kolestrol dan menstabilkan lemak darah dengan menurunkan kadar

kolestrol (LDL dan trigliserida)

  1. Antioksidan

Antioksidan adalah senyawa atau zat yang dapat menghambat, menunda, mencegah atau memperlambat

reaksi oksidasi meskipun dalam kosentrasi yang kecil/menetralisir efek radikal bebas. Antioksidan yang

terkandung di dalam ekstrak yang ada pada formulasi berupa SOD (superoksida dismutase) yang mengikat

radikal bebas. Senyawa-senyawa antioksidan yang berasal dalam ekstrak herba Phyllanthus niruri ,          

Curcuma domestica; Curcuma zedoaria (kurkuminoid: kurkumin), kandungan vitamin C (ascorbin), B1, B2  

dan kalsium berguna dalam menunjang :

  1. Membersihkan racun dari tubuh/detoksifikasi karena mengandung mineral germanium
  2. Mengeliminasi mikroorganisme yang berbahaya untuk tubuh (efek antivirus,a ntifungi dan antibakteri)

Menghambat replikasi DNA bakteri aktivitas dari ekstrak herba Strobilanthus crispus

Filantin, hipofilantin nirathin dan nietetralin memiliki efek antibakteri dan antifungi

Antrakuinon, acubin, L-aspeeruloside, alizarin dalam ekstrak herba Morinda citrifolia terbukti        

membunuh bakteri penyebab infeksi Mycobacterium tuberculosis (penyebab TBC),      

Stapphyllococus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Proteus morganii, Bacillus subtilis,       

Escherichija coli dan Salmonella. Kombinasi ekstrak herba Morinda citrifolia dan ekstrak herba         

Zingiber officinale terbukti lebih efektif menigkatkan daya bunuh terhadap bakteri.

Sesquiterpen dan eugenol dalam ekstrak Curcuma zedoaria mampu mampu merusak permukaan      

sel, baik membran maupun dinding sel jamur seperti Candida albicans.

  1. Mempercepat regenerasi sel

Ekstrak herba Morinda citrifolia menghambat pelepasan NAMD-glutamic (pemicu degenerasi sel) dan   

senyawa aktif damnachantal mengubah fungsi sel yang abnormal menjadi normal, menurunkan

multiplikasi sel pada level gen.

  1. Mempercepat perbaikan jaringan kulit/revitalisasi

Saponin dan zinc berperan dalam membantu proses penyembuhan luka karena memiliki kemampuan

untuk pembentukan sel dan jaringan ikat dalam mempercepat penyembuhan luka.

  1. Meningkatkan stamina dan vitalitas tubuh

– Kandungan zinc sebagai activator enzim yang penting pada pembentukan protein dan proses

pertahanan tubuh.

– Kandungan enzim protease dan lipase dalam ekstrak herba Zingiber officinale dapat meningkatkan         

nafsu makan.

  1. Mengurangi resiko terkena penyakit degeneratif seperti, kanker, penyakit jantung dan pembuluh darah

serta diabetes.

KHASIAT

  1. Mengaktifkan serta meningkatkan sistem imunitas/kekebalan tubuh, agar mengurangi resiko terserang

penyakit akibat sistem kekebalan tubuh (HIV) ataupun penyakit lainnya seperti hepatitis, HIV, TBC, ISPA ,

alzhaimer, tumor dan kanker

  1. Mengurangi nyeri dan rasa sakit tanpa menghilangkan kesadaran karena bersifat analgesik
  2. Mengatasi peradangan dan pembengkakan yang mungkin terjadi
  3. Melancarkan aliran darah di dalam tubuh
  4. Menjaga kesehatan otak dengan menjamin kecukupan nutrisi dan suplai oksigen
  5. Melancarkan metabolisme tubuh termasuk sistem percernaan dan juga menyebabkan penurunan kadar

kolestrol (LDL dan trigliserida)

  1. Membersihkan racun yang terkandung di dalam tubuh sebagai detoksifikator
  2. Merevitalisasi dan regenerasi sel/jaringan yang rusak (kulit, hati, pembuluh darah)
  3. Mengembalikan stamina dan vitalitas tubuh yang hilang akibat aktivitas berlebihan karena kandungan

antioksidan dan zat yang baik untuk kesehatan tubuh ( vitamin C, B1, B2, zinc dan kalsium )

  1. Mengurangi resiko terkena penyakit degeneratif karena memiliki kemampuan menangkap dan menetralisir radikal-radikal bebas di dalam tubuh yang dapat memicu penyakit-penyakit degeneratif

 SARAN 

  • Tindakan preventif diri terhadap penyakit dengan menjaga kebersihan seperti memakai masker, mencuci

tangan

  • Makan makanan berimbang dan minum yang cukup (minimal 2 L/hari)
  • Istirahat yang cukup
  • Tidak merokok

 DOSIS

3 kali sehari 2 kapsul

Tiap kapsul mengandung ekstrak :

ISPAHI   | 10

  1. Unique Herbamed Indonesia

Phyllanthus niruri herba 55 mg

Curcuma domestica rhizoma 40 mg

Zingiber officinale rhizoma  40 mg

Morinda citrifolia fructus

40 mg

Strobilathus crispus fructus

40 mg

Curcumae zedoaria rhizoma 35 mg